Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 859 Ribu, Transaksi Digital Makin Diminati

5 minutes reading
Friday, 27 Mar 2026 06:41 103 Sintia Paulina

Liputankutim.id-Perubahan cara orang bertransaksi di Kalimantan Timur sekarang terasa semakin jelas. Kalau dulu masih banyak yang mengandalkan uang tunai untuk hampir semua kebutuhan, kini pelan-pelan kebiasaan itu mulai bergeser.

Di warung kopi, pedagang kaki lima, sampai toko kecil di pinggir jalan, QR code pembayaran sudah jadi pemandangan yang biasa. Bahkan, tidak sedikit yang justru lebih memilih scan daripada mencari uang kembalian.

Data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur menguatkan gambaran tersebut. Di awal tahun 2026, jumlah pengguna QRIS di Kaltim tercatat sudah mencapai 859,2 ribu orang.

Penggunaan QRIS Terus Naik di Awal Tahun

Angka tersebut bukan datang tiba-tiba. Kalau dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya, ada kenaikan yang cukup terasa.

Pada Desember 2025, jumlah pengguna QRIS berada di angka 850,8 ribu. Artinya, hanya dalam waktu satu bulan, ada tambahan puluhan ribu pengguna baru yang mulai beralih ke transaksi digital.

Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menyebut peningkatan ini sebagai sinyal positif. Bukan hanya soal angka, tapi juga perubahan perilaku masyarakat.

Baca Juga:  Operasi Ketupat Mahakam 2026 Hari ke-6 Dievaluasi, Polres Kutim Tingkatkan Pengamanan

Menurutnya, kepercayaan terhadap sistem pembayaran digital semakin kuat. Orang mulai merasa nyaman menggunakan QRIS untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Dari Sekadar Tren Jadi Kebutuhan

Kalau melihat kondisi di lapangan, memang terasa bahwa QRIS sudah bukan lagi sekadar tren.

Banyak pelaku usaha yang awalnya ragu, sekarang justru aktif menyediakan metode pembayaran ini. Bahkan, di beberapa tempat, transaksi digital lebih sering digunakan dibanding uang tunai.

Jajang Hermawan juga menyinggung hal ini. Ia menilai adaptasi yang dilakukan para pelaku usaha bukan hanya ikut-ikutan perkembangan zaman.

“Adaptasi cepat para pelaku usaha ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan transparansi transaksi,” jelasnya.

Kalimat ini cukup menggambarkan situasi yang terjadi sekarang. Pelaku usaha mulai melihat manfaat nyata dari sistem pembayaran digital, bukan hanya dari sisi kemudahan, tapi juga pengelolaan usaha.

Jumlah Merchant Juga Ikut Bertambah

Pertumbuhan pengguna ternyata diikuti oleh peningkatan jumlah merchant.

Pada Desember 2025, jumlah merchant QRIS di Kaltim tercatat sekitar 798,2 ribu. Lalu pada Januari 2026, jumlah itu naik menjadi 808,0 ribu.

Ini berarti semakin banyak pelaku usaha yang membuka diri terhadap sistem pembayaran non tunai.

Fenomena ini menarik, karena biasanya perubahan perilaku konsumen dan pelaku usaha tidak selalu berjalan beriringan. Namun dalam kasus QRIS di Kaltim, keduanya terlihat saling mendorong.

Semakin banyak pengguna, semakin banyak juga merchant yang ikut bergabung. Begitu juga sebaliknya.

Perubahan yang Terasa di Kehidupan Sehari-hari

Kalau diamati, perubahan ini sebenarnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sekarang, orang bisa beli makanan, bayar parkir, bahkan jajan di pinggir jalan tanpa perlu membawa uang tunai.

Baca Juga:  Kasus Campak di Kutai Timur Meningkat, 105 Suspek Tercatat hingga Awal 2026

Cukup buka aplikasi, scan, dan transaksi selesai dalam hitungan detik.

Di beberapa kota seperti Samarinda atau Balikpapan, kebiasaan ini sudah cukup umum. Bahkan, ada yang mulai merasa repot kalau harus membayar pakai uang cash.

Hal kecil seperti ini menunjukkan bahwa transformasi digital memang sedang berlangsung, bukan hanya di kota besar nasional, tapi juga di daerah.

Uang Tunai Masih Tetap Berjalan

Meski transaksi digital terus meningkat, bukan berarti uang tunai benar-benar ditinggalkan.

Bank Indonesia mencatat, pada periode yang sama, sektor perbankan di Kalimantan Timur mengalami net inflow sebesar Rp2,9 triliun.

Angka ini menunjukkan bahwa peredaran uang kartal masih aktif dan tetap dibutuhkan dalam berbagai transaksi.

Jajang Hermawan menjelaskan bahwa kondisi ini justru menjadi sinyal yang sehat.

“Ini mengindikasikan likuiditas perbankan di awal tahun tetap terjaga dengan sangat baik. Meskipun pola transaksi masyarakat mulai bergeser ke arah digital secara masif, aktivitas ekonomi konvensional tetap bergerak dinamis dan terkendali,” ujarnya.

Dengan kata lain, digital dan konvensional saat ini berjalan berdampingan.

Kenapa QRIS Cepat Diterima

Ada beberapa alasan kenapa QRIS bisa berkembang cukup cepat, khususnya di daerah seperti Kalimantan Timur.

Pertama, kemudahan penggunaan. Tidak perlu alat tambahan yang rumit, cukup satu kode QR yang bisa digunakan berbagai aplikasi.

Kedua, fleksibilitas. Baik pembeli maupun penjual tidak perlu repot menyediakan uang pas atau kembalian.

Ketiga, keamanan. Banyak orang merasa transaksi digital lebih aman karena tidak perlu membawa uang dalam jumlah besar.

Dan yang tidak kalah penting, sekarang hampir semua orang sudah terbiasa menggunakan smartphone dalam aktivitas sehari-hari.

Peluang untuk Ekonomi Daerah

Peningkatan penggunaan QRIS sebenarnya bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga berdampak pada ekonomi daerah.

Baca Juga:  Sepi Setelah Lebaran, Danau Jempang Jadi Tempat Healing yang Dicari

Dengan sistem transaksi yang lebih transparan, pelaku usaha bisa lebih mudah mengelola keuangan.

Di sisi lain, pemerintah juga bisa mendapatkan data ekonomi yang lebih akurat untuk perencanaan kebijakan.

Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa perluasan QRIS terus didorong.

Perubahan yang Terjadi Secara Bertahap

Meski terlihat cepat, perubahan ini sebenarnya terjadi secara bertahap.

Beberapa tahun lalu, masih banyak yang belum familiar dengan QRIS. Bahkan ada yang merasa ragu atau tidak percaya.

Namun sekarang, situasinya berbeda. Edukasi yang terus dilakukan, ditambah kemudahan teknologi, membuat masyarakat lebih terbuka.

Dari yang awalnya coba-coba, sekarang jadi kebiasaan.

Ke Depan Masih Akan Terus Tumbuh

Melihat tren yang ada, kemungkinan besar penggunaan QRIS di Kalimantan Timur masih akan terus meningkat.

Apalagi dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang bergabung dan dukungan dari berbagai pihak.

Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun ke depan, transaksi non tunai akan menjadi pilihan utama dalam berbagai aktivitas.

Namun di sisi lain, keseimbangan tetap perlu dijaga. Tidak semua orang bisa langsung beralih ke digital, sehingga sistem konvensional tetap harus tersedia.

Perubahan cara bertransaksi ini mungkin terasa sederhana, tapi dampaknya cukup besar. Dari kebiasaan kecil seperti bayar kopi atau makanan, perlahan terbentuk pola baru dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Dan kalau melihat apa yang terjadi di Kalimantan Timur saat ini, rasanya perubahan itu tidak akan berhenti di sini.

Sintia Paulina

Seorang jurnalis perempuan ini dikenal sebagai penulis yang fokus pada dunia game, berangkat dari hobi bermain sejak lama yang kemudian berkembang menjadi karier profesional. Saya suka menulis berbagai topik mulai dari ulasan game, tren industri, hingga pengalaman komunitas dengan gaya yang ringan, jujur, dan dekat dengan sudut pandang pemain.

Melalui konsistensi dan ketertarikannya yang mendalam terhadap game, Saya harap berhasil menghadirkan perspektif yang berbeda sekaligus memperkuat peran perempuan dalam dunia jurnalisme gaming.

LAINNYA