Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Naik Mulai 1 April 2026, Dampaknya Bisa Meluas ke Harga Pangan

4 minutes reading
Monday, 30 Mar 2026 14:59 51 Sari Maulinda

Liputankutim.id-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai menjadi perhatian menjelang awal April 2026. Tekanan dari pasar global membuat harga energi kembali bergerak naik, dan dampaknya mulai terasa hingga ke dalam negeri.

Harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan bakal mengalami kenaikan mulai 1 April 2026. Hal tersebut menyusul lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya beban kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Situasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak dunia memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam, terutama dipicu oleh konflik geopolitik yang belum mereda.

Harga Minyak Dunia Naik Tajam dalam Sepekan

Pergerakan harga minyak global menjadi faktor utama yang mendorong potensi kenaikan BBM.

Pada awal pekan ini, harga minyak tercatat cukup tinggi:

  • Brent mencapai US$116,6 per barel
  • WTI menyentuh US$102,88 per barel

Kenaikan ini melanjutkan tren sebelumnya. Jika dibandingkan beberapa hari sebelumnya:

  • Brent naik dari US$112,57
  • WTI naik dari US$99,64

Bahkan jika ditarik lebih jauh, lonjakan terlihat lebih signifikan. Dalam waktu sekitar satu minggu, harga minyak naik dari kisaran US$99 menjadi di atas US$116 per barel.

Baca Juga:  Efisiensi Program Makan Bergizi Gratis Diusulkan Tetap Jalan Tanpa Kurangi Kualitas

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan global terhadap energi belum mereda.

BBM Non Subsidi Diperkirakan Naik Hingga Rp2.000

Kenaikan harga minyak global biasanya akan berdampak langsung pada harga BBM dalam negeri, khususnya untuk jenis non subsidi.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memperkirakan adanya penyesuaian harga dalam waktu dekat.

“BBM non subsidi diperkirakan naik 1.500-2.000 per liter untuk Pertamax dan Pertamina dex. Kenaikan BBM non subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (3/30/2026).

Jika prediksi ini terjadi, maka harga BBM seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi mengalami kenaikan cukup terasa bagi masyarakat.

Beban Kompensasi Pemerintah Jadi Faktor Utama

Kenaikan harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh beban fiskal yang harus ditanggung pemerintah.

Ketika harga minyak naik:

  • Selisih harga keekonomian meningkat
  • Beban subsidi dan kompensasi ikut naik
  • Tekanan terhadap APBN semakin besar

Jika tidak dilakukan penyesuaian, maka beban tersebut harus ditanggung oleh perusahaan energi.

“Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding,” katanya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa penyesuaian harga, tekanan justru bisa berpindah ke sektor lain.

Kenaikan Ini Bukan yang Pertama

Bhima juga menilai bahwa potensi kenaikan ini bukanlah yang terakhir.

Selama harga minyak dunia masih berada di kisaran tinggi:

  • Risiko kenaikan akan tetap ada
  • Penyesuaian bisa terjadi kembali

Apalagi jika harga minyak terus bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama.

Dampak yang Bisa Dirasakan Masyarakat

Kenaikan BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi.

Efek yang lebih luas bisa dirasakan pada:

  • Harga bahan pokok
  • Biaya distribusi
  • Harga jasa dan logistik
Baca Juga:  Pemerintah Mulai Blokir Akun Anak di Media Sosial, Sekitar 70 Juta Pengguna Dibawah 16 Tahun Terkena Dampaknya

Bhima bahkan mengingatkan bahwa dampaknya bisa meluas ke inflasi.

“Transmisi nya dari BBM kemana-mana termasuk ke inflasi pangan. inflasi bisa tembus 6-7% di bulan April. sementara Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya. ini disebut Quite before the Storm, terlalu santai dan anggap enteng,” katanya.

Jika inflasi benar-benar meningkat, maka daya beli masyarakat bisa ikut tertekan.

Risiko Kenaikan BBM Subsidi Mulai Dibahas

Selain BBM non subsidi, ada juga kekhawatiran terkait BBM subsidi.

Jika tekanan fiskal terus meningkat:

  • Pemerintah bisa mempertimbangkan penyesuaian
  • Beban subsidi bisa dikurangi

Meski belum ada keputusan resmi, isu ini mulai menjadi perhatian.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Kenaikan Ini

Dari kondisi ini, ada beberapa hal penting yang mulai terlihat.

Pertama, kenaikan BBM tidak hanya soal energi, tapi berkaitan langsung dengan kondisi global. Konflik di luar negeri bisa berdampak langsung ke harga dalam negeri.

Kedua, sistem energi Indonesia masih cukup bergantung pada faktor eksternal. Ketika harga minyak naik, dampaknya sulit dihindari.

Ketiga, efek kenaikan BBM hampir selalu berantai. Tidak berhenti di transportasi, tetapi merambat ke harga kebutuhan sehari-hari.

Ini yang sering tidak disadari, bahwa kenaikan kecil di BBM bisa berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat

Dalam kondisi seperti ini, langkah paling realistis adalah bersiap menghadapi kemungkinan perubahan harga.

Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Mengatur pengeluaran lebih efisien
  • Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan
  • Memantau perkembangan harga BBM

Karena jika kenaikan benar terjadi, dampaknya akan terasa dalam waktu singkat.

Pergerakan yang Perlu Dipantau ke Depan

Situasi saat ini masih berkembang. Keputusan resmi terkait harga BBM akan sangat bergantung pada:

  • Pergerakan harga minyak dunia
  • Kebijakan pemerintah
  • Kondisi fiskal negara
Baca Juga:  Antrean BBM Mengular di Kalimantan Barat, Mendagri Ungkap Pemicu Panic Buying

Jika tekanan global belum mereda, potensi penyesuaian harga masih terbuka.

Yang terlihat saat ini adalah sinyal awal dari perubahan yang lebih besar. Kenaikan harga BBM non subsidi bisa menjadi langkah awal sebelum kebijakan lain ikut menyesuaikan.

Sari Maulinda

Saya adalah seorang penulis sekaligus pengamat kebijakan pemerintah yang berfokus pada isu-isu publik, regulasi, dan dampaknya terhadap masyarakat. Ketertarikan pada dunia kebijakan membawa saya untuk terus mengikuti perkembangan keputusan pemerintah, menganalisisnya secara kritis, lalu menyajikannya dalam tulisan yang mudah dipahami.

Dalam setiap tulisan, saya berupaya menghadirkan sudut pandang yang seimbang, berbasis data, dan relevan dengan kondisi nyata di lapangan.

LAINNYA