Liputankutim.id-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai menjadi perhatian menjelang awal April 2026. Tekanan dari pasar global membuat harga energi kembali bergerak naik, dan dampaknya mulai terasa hingga ke dalam negeri.
Harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan bakal mengalami kenaikan mulai 1 April 2026. Hal tersebut menyusul lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya beban kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah.
Situasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak dunia memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam, terutama dipicu oleh konflik geopolitik yang belum mereda.
Pergerakan harga minyak global menjadi faktor utama yang mendorong potensi kenaikan BBM.
Pada awal pekan ini, harga minyak tercatat cukup tinggi:
Kenaikan ini melanjutkan tren sebelumnya. Jika dibandingkan beberapa hari sebelumnya:
Bahkan jika ditarik lebih jauh, lonjakan terlihat lebih signifikan. Dalam waktu sekitar satu minggu, harga minyak naik dari kisaran US$99 menjadi di atas US$116 per barel.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan global terhadap energi belum mereda.
Kenaikan harga minyak global biasanya akan berdampak langsung pada harga BBM dalam negeri, khususnya untuk jenis non subsidi.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memperkirakan adanya penyesuaian harga dalam waktu dekat.
“BBM non subsidi diperkirakan naik 1.500-2.000 per liter untuk Pertamax dan Pertamina dex. Kenaikan BBM non subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (3/30/2026).
Jika prediksi ini terjadi, maka harga BBM seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi mengalami kenaikan cukup terasa bagi masyarakat.
Kenaikan harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh beban fiskal yang harus ditanggung pemerintah.
Ketika harga minyak naik:
Jika tidak dilakukan penyesuaian, maka beban tersebut harus ditanggung oleh perusahaan energi.
“Atau risikonya memang Pertamina yang menanggung, dengan cashflow yang bleeding,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa penyesuaian harga, tekanan justru bisa berpindah ke sektor lain.
Bhima juga menilai bahwa potensi kenaikan ini bukanlah yang terakhir.
Selama harga minyak dunia masih berada di kisaran tinggi:
Apalagi jika harga minyak terus bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama.
Kenaikan BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi.
Efek yang lebih luas bisa dirasakan pada:
Bhima bahkan mengingatkan bahwa dampaknya bisa meluas ke inflasi.
“Transmisi nya dari BBM kemana-mana termasuk ke inflasi pangan. inflasi bisa tembus 6-7% di bulan April. sementara Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya. ini disebut Quite before the Storm, terlalu santai dan anggap enteng,” katanya.
Jika inflasi benar-benar meningkat, maka daya beli masyarakat bisa ikut tertekan.
Selain BBM non subsidi, ada juga kekhawatiran terkait BBM subsidi.
Jika tekanan fiskal terus meningkat:
Meski belum ada keputusan resmi, isu ini mulai menjadi perhatian.
Dari kondisi ini, ada beberapa hal penting yang mulai terlihat.
Pertama, kenaikan BBM tidak hanya soal energi, tapi berkaitan langsung dengan kondisi global. Konflik di luar negeri bisa berdampak langsung ke harga dalam negeri.
Kedua, sistem energi Indonesia masih cukup bergantung pada faktor eksternal. Ketika harga minyak naik, dampaknya sulit dihindari.
Ketiga, efek kenaikan BBM hampir selalu berantai. Tidak berhenti di transportasi, tetapi merambat ke harga kebutuhan sehari-hari.
Ini yang sering tidak disadari, bahwa kenaikan kecil di BBM bisa berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, langkah paling realistis adalah bersiap menghadapi kemungkinan perubahan harga.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:
Karena jika kenaikan benar terjadi, dampaknya akan terasa dalam waktu singkat.
Situasi saat ini masih berkembang. Keputusan resmi terkait harga BBM akan sangat bergantung pada:
Jika tekanan global belum mereda, potensi penyesuaian harga masih terbuka.
Yang terlihat saat ini adalah sinyal awal dari perubahan yang lebih besar. Kenaikan harga BBM non subsidi bisa menjadi langkah awal sebelum kebijakan lain ikut menyesuaikan.